Welcome guys....

This Is My Blog

Selasa, 06 Desember 2011

Laporan Oh Laporan....

parah banget....minggu minggu terakhir kuliah malah sibuk bikin laporan..sebenere kita tu tugas utama kita kuliah apa bikin laporan si......????
tiur larut malem bangun kelewat pagi...hanya untuk laporan.....mending kalo praktikum ngaruh ke nilai kuliah gede...orang cuma 10 % doang ko......bolos kuliah juga demi revisi ke asisten...mending mending kalo pas kedapetan asisten yang baek si alhamdulillah ya.....tapi kalo dapet asisten yang susah.......OMG....tapi kalo dipikir pikir lagi si ga papa juga ..heheh daripada kita kerjaanya maen trus....kan ga bermanfaat tu...mending latihan nulis tangan ...biar tangan ampe mau patah juga ga papa deh.......
tapi ampe sekarang aku masih sebel ma yang namanya asisten...ya...ga semuanya si cuma sebagian aja abisnya susah bget dihubungin...di telphon dimatiin ..di sms ga di bales....gmana si masnya ...mbaknya......tlong bantu kita kita dong...............masalahnya kita ga hanya bikin laporan satu doang tapi sekaligus enam laporan........coba bayangkan...heheh aku sendiri aja ga bisa ngebayangin.........aku ga tau apakah senmua ini akan berdampak pada penurunan IP ku semester ini ..????? jangan sampe ya nopi...harus dapet 3,7 kalo bisa...heheh harus bisa dung...tapi sedikit kyrang yakin ma mata kuliah RBKP yang kemaren aja uts cuma dapet 60 huhuh...tapi harus tetep semangat..ntar suruh si adi nogroho wat ngajarin deh   dia kan pinter.....heheh....amin.....tetep semangat..awali segala sesuatu dengan basmalah....Allahu akbar....
KEEP SMILE EVERYDAY.........

Kamis, 17 November 2011

Alihkan Investasi Kapal Perikanan untuk Budidaya Pesisir

Sejak dua tahun terakhir, sektor perikanan tangkap terpuruk dan mengalami paceklik ikan. Direksi PT Perikanan Nusantara sebaiknya mengalihkan investasi armada perikanan sebesar Rp 300 miliar untuk mengembangkan sektor budidaya di sepanjang pesisir, bekerjasama dan membina kelompok nelayan serta pembudidaya di pulau-pulau kecil.

Sebagai gambaran dari garis pantai sepanjang 95.150 kilometer mempunyai potensi untuk lahan budidaya laut yang lebih menjanjikan. Batas lima mil dari garis pantai ke arah laut diperkirakan seluas 24,53 juta hektar dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan kakap, kerapu, tiram, kerang darah, kepiting bakau, bandeng, teripang mutiara, abalone dan rumput laut.

Oki Lukito Ketua Forum Masyarakat Kelautan dan Perikanan mengatakan lahan tambak di sejumlah lokasi kondisinya sekarang banyak terpuruk, produksinya anjlok akibat penyakit dan teracuni konsentrat pakan non organik. Pola polikultur seperti udang, rumput laut, dan bandeng di sejumlah daerah telah terbukti mampu menekan biaya produksi hingga 60 persen.

Program tersebut lebih condong ke arah tradisional sekaligus kampanye budidaya go green. Di tengah keterpurukan sektor perikanan nasional dan ikan pun terpaksa impor untuk memenuhi pasokan industri, peran PT PN dan institusi lainnya sangat dibutuhkan masyarakat miskin yang berada di 10.600 desa pesisir.

"Ribuan pulau-pulau kecil menanti sentuhan ekonomi dan tangan dingin direksi agar bisa memberikan nilai tambah. Toh, budidaya bukan barang baru bagi PT PN. Anggap saja pulau kecil adalah ‘kapal’ pengeruk ikan yang siap berproduksi dan menjadi sumber perekonomian," kata Oki seperti rilis yang diterima suarasurabaya.net.

Sejumlah pulau kecil, menurut Oki, berpeluang dijadikan minapolitan berbasis kepulauan atau dimanfaatkan untuk sentra pembenihan jenis ikan unggulan, seperti kerapu cantang, hasil silangan kerapu macan dan kerapu kertang (kerapu hibrida) yang mampu mempercepat proses pembesaran tiga bulan dari kerapu biasa.

Menurut Oki, Malaysia justru lebih berhasil menjadi eksportir ikan kerapu. Padahal benihnya diimpor dari Indonesia. Bahkan Taiwan sukses menjadi negara eksportir udang windu terbesar dunia, sementara jenis udang tersebut spesies asli negeri ini. Indonesia sebaiknya harus belajar dari Korea Selatan yang mampu memproduksi kertas dan biofule dari rumput laut yang spesiesnya hanya ada di Indonesia

Dibebaskan, 17 Nelayan yang Ditahan di Malaysia

Selasa, 15 November 2011 14:36 WIB
 
REPUBLIKA.CO.ID,MEDAN--Sebanyak 17 nelayan Langkat Sumatera Utara, dari 23 nelayan yang ditahan Tentara Maritim Malaysia, akan dibebaskan dan dikembalikan ke daerah itu pada Selasa.

"Pembebasan ke-17 nelayan tersebut sudah kita terima informasinya," kata Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Tangkap Dinas Perikanan dan Kelautan Langkat, Ali Mukti Siregar di Stabat, Selasa.

Direncanakan mereka akan dikembalikan ke Sumatera Utara melalui Bandar Polonia Medan dari Penang Malaysia, sekitar pukul 18.30 WIB dan akan diterima langsung oleh Menteri Perikanan dan Kelautan.

Selanjutnya, para nelayan diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Langkat. "Kemudian 17 nelayan akan dibawa langsung ke Stabat," katanya.

Ali Mukti menjelaskan bahwa pembebasan ke-17 nelayan tersebut sesuai dengan laporan petugas Konsulat Jenderal Republik Indonesia Pulau Penang Malaysia.

Dari pemeriksaan yang dilakukan, memang benar 23 nelayan memasuki perairan Malaysia, namun 17 nelayan ketika ditangkap walaupun melanggar wilayah perairan Malaysia, tidak sedang melakukan operasi penangkapan ikan.

Sementara yang enam nelayan lagi melakukan operasi penangkapan ikan berdasarkan rekaman komputer petugas maritim Malaysia. Keenam nelayan iu masih ditahan dan menunggu keputusan persidangan Mahkamah Malaysia, kata Ali Mukti Siregar.

Adapun ke 17 nelayan Langkat yang dibebaskan dan dipulangkan itu terdiri dari Mukhlis (31/nakhoda), Samsudi (24/ABK), Hermansyah Putra (30/ABK), Muhammad Rio (21/ABK). Kemudian Andi (23/ABK), Julpian (41/ nakhoda, Sahrial (30/ABK), Safrizal (38/ABK), M Ridwan (22/ABK), M Ridwan (32) dan Zulham (27/ABK).

Selain itu, turut juga dipulangkan Lana (21/ABK), Iqbal Rinanda (21/nakhoda), Ervan (21/ABK), M Reza (20/ABK) dan Bambang Kurniawan Safriadi (25/ABK). Mereka merupakan penduduk Kelurahan Sei Bilah Kecamatan Sei Lepan Kabupaten Langkat.

Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Tangkap, Ali Mukti Siregar menyampaikan bahwa enam orang nelayan lagi belum bisa dipulangkan, karena masih menunggu proses persidangan.
"Mereka masih ditahan di penjara Pulau Penang Malaysia dan masih dalam proses persidangan," katanya.

Keenam nelayan itu ketika ditangkap Tentara Maritim Malaysia mempergunakan motor PB 649, yang terdiri dari Andi Syahputra (38) nakhoda, penduduk Jalan Sei Bilah Gang Meriam Lingkungan V Kelurahan Sei Bilah Kecamatan Sei Lepan, Langkat.

Bersamanya Andi Syahputra turut ditahan Fajar Setiawan (19/ABK), Safrizal (38/ABK), Rizal (28/ABK), M Nasir (34/ABK) dan Sandri Hasan (24/ABK). Keenam nelayan ini merupakan penduduk Kelurahan Sei Bilah Kecamatan Sei Lepan, Langkat.

Sistem Informasi Kelautan dan Perikanan

Saat ini berbagai produk perikanan tangkap dalam kondisi stagnan. Sebab, nelayan mengalami keterbatasan alat tangkap, terutama kapal, dan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi teknologi tentang kelautan dan perikanan. Langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan yang akan menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk pengadaan ribuan kapal tangkap bagi nelayan tidak akan optimal tanpa dukungan sistem informasi yang menggambarkan kondisi terkini kelautan dan perikanan.
Diperlukan solusi terintegrasi berupa e-ocean fisheries government, yakni sistem informasi tentang kelautan dan perikanan berbasis sistem informasi geografis (SIG) dengan kemampuan business intelligent serta memiliki keandalan interoperabilitas sehingga bisa berbagi informasi secara luas. Selain itu, berbagai basis data perikanan global dapat diakses. Contohnya, fisheris global information system yang menyediakan informasi seperti statistik perikanan, peta sebaran ikan menurut spesies, isu dan topik perikanan aktual, budidaya, perikanan laut, serta teknologi penangkapan.
Data tersebut tersedia kapan dan di mana saja kita perlukan. Selain itu, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) juga telah menyediakan data dan informasi penting tentang bagaimana profil perikanan di suatu negara dapat dipilih dengan mudah melalui situsnya.
Pada prinsipnya pengembangan e-ocean fisheries government merupakan sistem informasi nasional yang berkemampuan inteligensi sehingga pelaksanaan program dan tata kelola sumber daya kelautan dan perikanan akan lebih efektif. Sistem memiliki muatan dari banyak aspek, yaitu aspek ekologi, ekonomi kelautan, masalah sosial wilayah pesisir, dan tata kelola pulau-pulau kecil.
Sistem harus mudah diakses, diperbarui setiap saat, dipantau, sekaligus berfungsi sebagai sistem informasi ekosistem nasional yang saat ini telah menjadi isu penting dunia. E-ocean fisheries government bertujuan memberikan informasi yang lengkap tentang kondisi kelautan nasional, baik dari sisi sumber daya laut, keadaan perairan, cuaca, kejadian penting di laut (kecelakaan ataupun insiden), tanda-tanda navigasi laut yang sangat membantu bagi kapal berlayar di lautan kita, dan segala informasi mengenai laut.
Selain itu, data antardepartemen bisa dipertukarkan secara mudah. Contohnya, data untuk kebutuhan deteksi dan pemberantasan aktivitas illegal perikanan, antara lain track kapal ikan (posisi, kecepatan, heading), basis data SIPI, SIKPI (identitas pemilik, perusahaan, ukuran kapal, jenis alat tangkap, tanggal kedaluwarsa izin), basis data log book (jenis ikan, lokasi), basis data parameter biologi laut (klorofil, up-welling), serta basis data batas WPP.
 
KEBERADAAN IKAN
Dalam kegiatan penangkapan ikan, pertanyaan klasik yang sering kali mencuat adalah di mana ikan di laut berada dan kapan bisa ditangkap dalam jumlah cukup besar. Pertanyaan penting itu perlu dijawab. Apalagi, usaha penangkapan dengan mencari habitat ikan yang tidak menentu (asal-asalan) menimbulkan risiko tinggi, yaitu pemborosan BBM, waktu, dan tenaga nelayan.
Dengan mengetahui di mana ikan bisa ditangkap dalam jumlah besar, tentu biaya operasi penangkapan bisa dihemat. Salah satu solusi terbaik adalah mengombinasikan kemampuan SIG dan pengindraan jauh kelautan. Dengan teknologi pengindraan jauh, faktor-faktor lingkungan laut yang memengaruhi distribusi, migrasi, dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara berkala, cepat, dan dengan cakupan area yang luas.
Faktor lingkungan tersebut, antara lain, menyangkut suhu permukaan laut (SST), tingkat konsentrasi klorofil, perbedaan tinggi permukaan laut, arah dan kecepatan arus, serta tingkat produktivitas primer. Ikan dengan mobilitas yang tinggi akan lebih mudah dilacak di suatu area melalui sistem teknologi informasi. Hal ini dikarenakan ikan cenderung berkumpul pada kondisi lingkungan tertentu, seperti arus pusaran dan daerah front gradient pertemuan dua massa air yang berbeda, baik salinitas maupun suhu.
Pengetahuan dasar yang dipakai sebagai basis sistem informasi adalah pengkajian hubungan antara spesies ikan dan faktor lingkungan di sekelilingnya. Dari hasil kajian tersebut akan diperoleh indikator oseanografi yang cocok untuk ikan tertentu. Selanjutnya, output yang didapatkan dari indikator oseanografi yang bersesuaian dengan distribusi dan kelimpahan ikan dipetakan dengan teknologi SIG.
Data indikator oseanografi yang cocok untuk ikan perlu diintegrasikan dengan berbagai lapisan pada SIG karena ikan sangat mungkin merespons bukan hanya pada satu parameter lingkungan, tetapi berbagai parameter yang saling berkaitan. Dengan kombinasi SIG, pengindraan jauh dan data lapangan akan memberikan banyak informasi spasial, misalnya di mana posisi ikan banyak tertangkap, berapa jaraknya antara fishing base dan fishing ground yang produktif, serta kapan musim panen ikan yang paling efektif. Ikan tuna
Sebagai gambaran, signifikansi penggunaan SIG adalah kegiatan atau proyek penangkapan ikan tuna di Laut Pasifik. Dalam proyek itu pada prinsipnya ada dua basis data (satelit dan perikanan tuna), lalu dikombinasikan dalam mengembangkan spasial analisis daerah penangkapan ikan tuna. Biasanya ada empat lapis data yang diintegrasikan, yaitu suhu permukaan laut (NOAA/AVHRR), tingkat konsentrasi klorofil (SeaWiFS), perbedaan tinggi permukaan air laut (SSHA), dan eddy kinetik energi (EKE) (AVISO).
Parameter pertama dipakai karena berhubungan dengan kesesuaian kondisi fisiologi ikan dan termoregulasi untuk ikan tuna. Parameter kedua dapat menjelaskan tingkat produktivitas perairan yang berhubungan dengan kelimpahan makanan ikan. Parameter ketiga berhubungan dengan kondisi sirkulasi air daerah yang subur, seperti eddy dan upwelling. Adapun parameter terakhir berhubungan dengan indeks untuk melihat daerah subur dan kekuatan arus yang mungkin memengaruhi distribusi ikan. Data penangkapan ikan tuna diplot pada peta lingkungan yang dibangkitkan dari citra satelit.
Setiap spesies ikan mempunyai karakteristik oseanografi kesukaan masing-masing dan cenderung menempati daerah tertentu yang bisa dipelajari atau dibuat permodelannya. Hal tersebut bisa dilakukan dengan pendekatan teknologi SIG. Basis data semestinya menjadi isu penting dalam mengembangkan produksi perikanan tangkap negeri ini yang sedang stagnan.
Basis data itu juga sangat penting untuk mengetahui secara persis berapa sebenarnya potensi stok ikan yang kita miliki, di mana saja ikan tersebut bisa ditangkap, dan kapan bisa dipanen secara melimpah.


sumber: Kompas.com

Rabu, 16 November 2011

Awal masuk Perikanan Undip

Awalnya saya kurang tertarik untuk kuliah di perikanan,..karena jurusan tersebut bukanlah jurusan yang saya inginkan. akan tetapi karena saya sudah terlanjur malas untuk mengikuti test masuk perguruan tinggi, maka jadilah saya masuk di jususan perikanan fakultas perikanan dan ilmu kelautan universitas diponegoro ini...dan karena keterbatasan informasi mengenai program studi akhirnya dengan polosnya saya masuk pada program studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan yang sampai saat ini saya masih dengan setia kuliah pada program studi tersebut...dan akhirnya pun saya menjadi cinta dengan program studi saya...hehe harapan kedepan saya akan bekerja ataupun berwiraswasta yang masih sesuai dengan skill saya yaitu perikanan tangkap.


      tapi tiba-tiba keinginan saya mulai goyah dikarenakan saya lebih tertarik dengan bidang teknologi hasil parikanan. mungkin karena saya melihat peluang kerja ataupun usaha yang lebih terbuka lebar. dan ternyata setelah saya share ke temen2 saya mulai mengerti tentang apa itu program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan peluang kedepanya.....ya...saya hanya bisa terus berusaha dan ga lupa berdoa semoga apa yang saya jalani saat ini merupakan pilihan terbaik da Allah SWT,...amin...
KEEP SPIRIT....!!!!