Sejak dua tahun terakhir, sektor perikanan tangkap terpuruk dan mengalami paceklik ikan. Direksi PT Perikanan Nusantara sebaiknya mengalihkan investasi armada perikanan sebesar Rp 300 miliar untuk mengembangkan sektor budidaya di sepanjang pesisir, bekerjasama dan membina kelompok nelayan serta pembudidaya di pulau-pulau kecil.
Sebagai gambaran dari garis pantai sepanjang 95.150 kilometer mempunyai potensi untuk lahan budidaya laut yang lebih menjanjikan. Batas lima mil dari garis pantai ke arah laut diperkirakan seluas 24,53 juta hektar dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan kakap, kerapu, tiram, kerang darah, kepiting bakau, bandeng, teripang mutiara, abalone dan rumput laut.
Oki Lukito Ketua Forum Masyarakat Kelautan dan Perikanan mengatakan lahan tambak di sejumlah lokasi kondisinya sekarang banyak terpuruk, produksinya anjlok akibat penyakit dan teracuni konsentrat pakan non organik. Pola polikultur seperti udang, rumput laut, dan bandeng di sejumlah daerah telah terbukti mampu menekan biaya produksi hingga 60 persen.
Program tersebut lebih condong ke arah tradisional sekaligus kampanye budidaya go green. Di tengah keterpurukan sektor perikanan nasional dan ikan pun terpaksa impor untuk memenuhi pasokan industri, peran PT PN dan institusi lainnya sangat dibutuhkan masyarakat miskin yang berada di 10.600 desa pesisir.
"Ribuan pulau-pulau kecil menanti sentuhan ekonomi dan tangan dingin direksi agar bisa memberikan nilai tambah. Toh, budidaya bukan barang baru bagi PT PN. Anggap saja pulau kecil adalah ‘kapal’ pengeruk ikan yang siap berproduksi dan menjadi sumber perekonomian," kata Oki seperti rilis yang diterima suarasurabaya.net.
Sejumlah pulau kecil, menurut Oki, berpeluang dijadikan minapolitan berbasis kepulauan atau dimanfaatkan untuk sentra pembenihan jenis ikan unggulan, seperti kerapu cantang, hasil silangan kerapu macan dan kerapu kertang (kerapu hibrida) yang mampu mempercepat proses pembesaran tiga bulan dari kerapu biasa.
Menurut Oki, Malaysia justru lebih berhasil menjadi eksportir ikan kerapu. Padahal benihnya diimpor dari Indonesia. Bahkan Taiwan sukses menjadi negara eksportir udang windu terbesar dunia, sementara jenis udang tersebut spesies asli negeri ini. Indonesia sebaiknya harus belajar dari Korea Selatan yang mampu memproduksi kertas dan biofule dari rumput laut yang spesiesnya hanya ada di Indonesia
Sebagai gambaran dari garis pantai sepanjang 95.150 kilometer mempunyai potensi untuk lahan budidaya laut yang lebih menjanjikan. Batas lima mil dari garis pantai ke arah laut diperkirakan seluas 24,53 juta hektar dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan kakap, kerapu, tiram, kerang darah, kepiting bakau, bandeng, teripang mutiara, abalone dan rumput laut.
Oki Lukito Ketua Forum Masyarakat Kelautan dan Perikanan mengatakan lahan tambak di sejumlah lokasi kondisinya sekarang banyak terpuruk, produksinya anjlok akibat penyakit dan teracuni konsentrat pakan non organik. Pola polikultur seperti udang, rumput laut, dan bandeng di sejumlah daerah telah terbukti mampu menekan biaya produksi hingga 60 persen.
Program tersebut lebih condong ke arah tradisional sekaligus kampanye budidaya go green. Di tengah keterpurukan sektor perikanan nasional dan ikan pun terpaksa impor untuk memenuhi pasokan industri, peran PT PN dan institusi lainnya sangat dibutuhkan masyarakat miskin yang berada di 10.600 desa pesisir.
"Ribuan pulau-pulau kecil menanti sentuhan ekonomi dan tangan dingin direksi agar bisa memberikan nilai tambah. Toh, budidaya bukan barang baru bagi PT PN. Anggap saja pulau kecil adalah ‘kapal’ pengeruk ikan yang siap berproduksi dan menjadi sumber perekonomian," kata Oki seperti rilis yang diterima suarasurabaya.net.
Sejumlah pulau kecil, menurut Oki, berpeluang dijadikan minapolitan berbasis kepulauan atau dimanfaatkan untuk sentra pembenihan jenis ikan unggulan, seperti kerapu cantang, hasil silangan kerapu macan dan kerapu kertang (kerapu hibrida) yang mampu mempercepat proses pembesaran tiga bulan dari kerapu biasa.
Menurut Oki, Malaysia justru lebih berhasil menjadi eksportir ikan kerapu. Padahal benihnya diimpor dari Indonesia. Bahkan Taiwan sukses menjadi negara eksportir udang windu terbesar dunia, sementara jenis udang tersebut spesies asli negeri ini. Indonesia sebaiknya harus belajar dari Korea Selatan yang mampu memproduksi kertas dan biofule dari rumput laut yang spesiesnya hanya ada di Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar